ILMU MENGATASI MACET
Yang semalam (Rabu, 18/07/12) berada di jalan di kota Jakarta, pasti merasakan macet yang luar biasa. Ada yang di jalan selama 1 jam di titik ruas yang sama, ada yang menempuh 3 jam jarak yang biasanya hanya 30 menit ditempuh. Yah kita hanya bisa mengumpat keadaan yang foked-up ini dan berpikir positif untuk tidak memilih ulang kegagalan pemerintahan ini.
Sambil meneriakkan yang ada di benak mayoritas warga Jakarta, Chonqky ingin berbagi sedikit tentang ilmu-ilmu yang mungkin dirangkum dari berbagai ilmu pemecahan masalah untuk sedikit kita pin-point apa sih penyebab macet dan bagaimana mengatasinya..
Si kumis beralasan bahwa pembangunan jalan layang akan mengurai macet. Kok bisa? Buktinya Jalan Layang Non-Tol Daan Mogot-Pesing yang meski hanya sepanjang 1552 meter tidak juga mengurai macet, namun menambah masalah, menambah macet dan menambah korban kejahatan seperti ranjau paku.
Sudah sering pula para petinggi “studi banding” ke negara lain, tapi if they actually study cases (rather than shopping!!), pasti sudah bisa melihat apa saja yang sebenarnya bisa dilakukan untuk memperbaiki macet. Ga usah jauh-jauh ke negara barat, tapi lihat saja di Bangkok atau Hong Kong. Atau Singapore dan Malaysia. Abisnya, kalau ada studi banding ke Singapore yang dilihat bukan traffic cases tapi LV & Gucci cases sih..
Tentu saja semua poin di bawah ini harus diaplikasikan secara bersamaan, namun kita bahas satu per satu, supaya kita dapat gambaran bagaimana mengatasi macet. Dan Chonqky kemas ini dalam bahasa ringan ria untuk mudah dicerna, tapi topik ini akademik dan serius kalau benar-benar niat dipelajarinya, bro!
1. MACET = MAMPET
Kita umpamakan macet itu sama seperti pipa atau selokan kita yang mampet. Saat mampet, kita hilangkan sumber kemampetan, dan perhatikan kenapa saluran itu bisa mampet, supaya kita bisa antisipasi kejadian berikutnya.
Begitu pula dengan macet. Penyebabnya adalah mobil yang bertumpuk yang tidak bisa kemana-mana. Kenapa tidak bisa kemana-mana? Karena mereka tidak ada tempat lain untuk bergerak. Seperti halnya mampet, mampet terjadi karena sumber penyumbat itu tidak bisa bergerak kemana-mana.
Solusinya? Buang!
Banyak kendaraan di ruas jalan yang sama, namun mereka tidak bisa kemana-mana karena banyaknya aturan dan larangan untuk keluar dari jalur tersebut. Banyak jalan di Jakarta yang mana kita harus berputar jauh dulu untuk melakukan U-turn, atau dibagi-bagi menjadi beberapa ruas sehingga kita tidak dengan mudah keluar dari jalan tersebut. Atau malah ada jalan-jalan yang sengaja ditutup-tutup oleh polisi-polisi yang merasa mengatur lalu lintas, tapi sebenarnya menambah kemacetan.
Buang! Buang! Buang! Biarkan mobil-mobil dan kendaraan-kendaraan yang “tidak berkepentingan” di jalan itu keluar dari ruas jalan tersebut, berikan dan sediakan aksesnya. Jangan malah ditutup-tutup. Biarkan dia melanggar kalau perlu, tapi mengurangi macet yang ada. Ini namanya solusi Lepas Mampet.
2. CLEARANCE AREA = NO VEHICLE ZONE
Supaya gudang di toko tidak menumpuk barang, makanya para retailer sering mengadakan Clearance Sale. Tujuannya supaya barang baru bisa masuk dan lewat. Begitu pula dengan macet, supaya tidak terjadi tumpukan mobil, ada saat-saatnya kita harus mengerti tentang ilmu Clearance ini.
Kita sebut saja ilmu ini adalah solusi Kosongkan Lubang. Dimana pada setiap perempatan ( = intersection) kita harus menjaganya supaya lubang itu kosong, agar tidak mampet. Yang termasuk sebagai intersection adalah semua perempatan, pertigaan, perlimaan, dan titik-titik lain dimana dua jalan atau lebih saling bertemu.
Ilmunya sederhana, dimana ada area seperti kuning di gambar di atas, harus selalu kosong. Apabila kita mau menyeberangi jalan, tapi ruas jalan di seberang kita masih penuh, jangan maju dulu, biarkan kendaraan dari arah kiri atau kanan Anda lewat. Karena kalau tidak ada yang mau mengalah ya yang terjadi seperti gambar di bawah..
- Kuningnya diterobos sih. Ga ada Clearance. Dapet salam dah. Dari Macica di Sarinah..
Gridlock seperti ini terjadi karena tidak ada yang mau mengalah, dimana mereka semua tidak bisa maju karena jalur kita terhambat oleh kendaraan yang dari sisi kiri kita tidak mau mengalah.
Ini penyelesaian yang agak rumit, karena hubungannya dengan tingkat kepandaian manusianya. Jadi implementasinya adalah penerapan peraturan yang benar, dan memakan biaya yang tidak nampak, jadi rawan korupsi.
3. RIGHT OF WAY = RAMADHAN WAY
Di bulan ramadhan kita sering dinasehati untuk sering berbagi. Begitu pula sebaiknya di jalan. Namun berbagi tidak hanya di bulan suci lah, namun tiap hari dalam setahun. Begitu pula berbagi jalan tiap hari dalam setahun. Supaya kita sendiri banyak pahala, juga bebas macet.
Ilmu Right-Of-Way ini mirip dengan ilmu Kosongkan Lubang, yang biasanya berlaku di perempatan-perempatan. Biarkan kendaraan yang tiba duluan di garis perempatan itu, terutama yang di sisi kiri kita, untuk maju lebih dahulu. Lalu kita, lalu mobil berikutnya yang di kanan kita. Dan begitu seterusnya satu per satu secara bergantian.
Istilah gampangnya: Ilmu Dateng Antri.
Yang datang duluan, dapet antrian duluan. Gitu.
Masa kita yang menggembor-gemborkan budaya timur penuh ketabuan dengan perihal seksual, namun ngga bisa antri (ini juga terjadi di bank, atau tempat-tempat antrian lainnya. Intinya, budaya antri sudah turun hilang dengan naiknya budaya omongin akhlak).
Jadi saling berbagi, seperti layaknya saat Ramadhan, memberikan jalan dahulu dan merasakan kenikmatan bebas macet bersama.
4. CROSSING ZONES & BUS STOPS
Macet di area Mall Ambassador itu sebenarnya tidak memerlukan jalan layang untuk mengurainya. Kalau dilihat apa sih penyebab macet di Ambassador itu? Cuma penyeberang kaki dan angkot ngetem!!! Jalan layang yang sedang dibangun itu tidak akan menyelesaikan macet yang ada di depan Ambassador selama orang nyebrang masih sebanyak itu dan angkot yang berhenti pun masih menumpuk seperti itu.
Jadi solusinya adalah Ilmu Kaki Bumi Langit dan Ilmu Bahu Jalan.
Kaki Bumi Langit dapat diartikan sebagai turunkan akses ke bawah bumi, atau naikkan akses ke atas langit. Dengan kata lain, sediakan tempat menyeberang yang mewah seperti undercrossing di Orchard, Singapore atau overcrossing seperti di Bangkok.
Mewah bukan berarti mahal, namun mewah berarti memadai dan terasa aman dan nyaman untuk semua penggunanya, bukan tangga kecil berhempetan atau lantai besi seng yang berbunyi kemerengseng saat diinjak dan dilewati. Bayangkan kalau kita semua bisa menyeberang layaknya sedang melintasi catwalk, bukan seperti melintasi death row of incoming cars and criminals.
Ilmu Bahu Jalan dapat diartikan seperti namanya. Buat supaya para kedaraan berhenti di bahu jalan. Supaya tidak menutupi arus yang ada di belakangnya. Titik.
Nah, tapi mandul atau kuatkah ereksi para penegak hukum untuk menegakkan (mengereksikan) aturan lalu–lintas ini?
5. TRAFFIC LIGHTS SYNC, LIKE LIP-SYNC
Lampu hijau. Kita tancap gas. Melaju 300 meter ke depan. Lampu merah. Berhenti lagi. Dan mobil menumpuk di belakang.
Siapa yang belum pernah ketemu situasi itu, silakan ngaceng.. eh, ngacung!! Situasi seperti itu yang kita temui di Jakarta.
Banyak lampu lalu-lintas yang saling tidak kompak yang menyebabkan jalan jadi terhambat. Yang mana tadi kemacetan itu bisa dibuang, ini malah dihalang-halangi.
Namun begitulah Indonesia. Hal-hal besar seperti peraturan pemerintah dan undang-undang saja tidak saling kompak, apalagi hal-hal kecil yang tidak ada duitnya buat mereka seperti hal mengatur kekompakan lampu lalu-lintas ini.
Layaknya show drag queen yang bagus, tentu saja dia akan mempelajari irama dari melodi dan lagu yang akan dia tampilkan, sehingga terjadi ilusi bahwa si performer benar-benar melantunkan lagu tersebut. Keindahan tersebut bisa didapat bila pengatur lampu lalu-lintas mengatur kekompakan seluruh lampu lalu-lintas yang ada sehingga tidak saling tumpang tindih di jalan.
Ini namanya Ilmu Kompak Kapak. Secara kompak mengapak macet.
6. BOTTLENECKING? BERBUKALAH WITH YANG MANIS
Secara fisika, botol dibuat sedemikian rupa untuk menghambat keluarnya isi dari botol tersebut sehingga tidak terjadi pertumpahan yang tidak diinginkan. Nah, tujuannya saja juga menghambat, jadi bottlenecking di jalan juga harus diperhatikan dong, karena akan menghambat laju pengguna jalan keluar dari ruas tersebut.
Contoh bottlenecking:
- Pertemuan Jalan Thamrin dengan Jalan H Agus Salim (Thamrin arah Sudirman, setelah Hotel Mandarin depan UOB Building)
- Pertemuan Jalan Pakubuwono, Underpass Pakubuwono dengan Jalur Busway Jl Panjang (Jalan Pakubuwono masuk Jl Panjang menuju Gandaria City, arah Pondok Indah)
- Jl Fachrudin (depan Hotel Millenium arah Tanah Abang)
- Perempatan Semanggi masuk ke Gatot Subroto depan Plaza Semanggi (2 jalur jalan lambat, 2 jalur belok dari Sudirman, 3 jalur dari Slipi dan 1jalur arus keluar tol yang ditumpahkan menjadi hanya 3 jalur depan Hotel Crowne Plaza)
Bottlenecking berawal dari penataan kota yang kurang. Sehingga banyak jalan yang sangat besar (jembatan Kuningan-Menteng) yang bertemu dengan jalan kecil (Jalan Teluk Betung arah Sevel Grand Indo). Solusinya harus dimulai dari antek-antek tata kota yang niat memperbaiki penataan kotanya. Mengatur dan mempelajari arus dengan benar.
Ilmu untuk membabat bottlenecking ngga baru, gunakan Ilmu Dateng Antri tadi.
Kan kita pasti dengar slogan Teh Botol yang Berbukalah Dengan Yang Manis tiap ramadhan. Jadi tiap ada masalah yang hubungannya dengan Botol Nek, ingatlah ilmu berbagi yang diberikan selama ramadhan tersebut juga.
Referensi lain:
How To Avoid Bottlenecking http://www.smartmotorist.com/traffic-and-safety-guideline/traffic-jams.html
7. DRIVING TEST IS SAFETY TEST
Bisa menjalankan kendaraan bukan berarti bisa mengemudi. Menjalankan kendaraan hanya perlu teknik menyalakan motor dan menginjak pedal.
Sementara mengemudi lebih mencakup tata krama dan kepedulian terhadap sesama pengguna jalan: bagaimana kita bisa tenang di jalan, bagaimana kita tidak merugikan pengguna lain, bagaimana kita menjaga keselamatan bersama, dan tentunya bagaimana kita semua mencegah macet.
Kadang kita tidak mau macet, tapi kita sendirilah penyebab kemacetan tersebut:
- dengan tidak mau mengalah,
- dengan berhenti sembarangan,
- dengan mengambil jalur yang salah saat mau berbelok,
- dengan memotong antrian
- dengan bermain handphone
- dengan memasang mascara
- dengan mengangkut/menurunkan penumpang
- dengan tidak menyiapkan uang tol dari jauh, padahal sudah tahu harga tol ya segitu-segitu saja
- dll
SIM tidak menjamin kemampuan mengemudi. SIM itu hanya Surat Itikad Mengajukan-Damai, yang mana ditunjukkan bersamaan saat kita membayar “damai”.
Pada dasarnya, mengemudi itu harus belajar, dan mengerti bahwa kita hidup di dunia ini tidak sendiri, bahwa semua orang buru-buru, dan bahwa tidak semua orang diberi kepandaian yang sama oleh Tuhan YME. Ilmu ini saya sebut sebagai Ilmu Tepo Seliro (bahasa jawa, .red)
8. SEPERTI SAMPAH, BUANG MACET PADA TEMPATNYA
Salah satu penyebab macet adalah pejabat yang melintas dengan iring-iringan dengan bunyi-bunyian yang cukup mengganggu. Kalau sudah padat, mau dikemanain lagi.
Sudah tahu Jakarta macet, harusnya mereka antisipasi. Mereka bukan penguasa, mereka itu pengatur negeri. Yang dititipkan oleh rakyatnya. Kita bukan bekerja untuk mereka, tapi mereka bekerja untuk kita. Kata lain, kita boss mereka. Jadi mereka itu harusnya mendahulukan boss.
Ya namanya Indonesia, menjunjung tinggi agama, tapi juga menjunjung tinggi kekuasaan. Tapi kita tidak usah bahas soal kekuasaan dan keserakahan para petinggi tersebut.
Seperti sampah, supaya tidak membuat kemampetan, harus dibuang pada tempatnya. Begitu pula penyebab macet. Seharusnya mereka itu dibuang dari ibukota ini, sehingga tidak perlu adanya iring-iringan, atau blokir-blokiran jalan.
Ini namanya Ilmu Going Greenless.
Biar yang niatnya mengatur negeri, matanya ndak gampang hijau mengikuti hawa nafsu untuk kaya.
9. ONE BRAKE LEADS TO TOTAL BRAKE-UP
Pacaran kalo break on-and-off lama-lama jadi off juga. Sudah dijamin dan terbukti. Begitu pula dengan mengemudi.
Tidak hanya brake on-and-off, tapi cukup satu brake ( = injakan rem) dapat menyebabkan macet sejauh 13 miles (20.8 km), one study wrote. Karena satu injakan rem dapat menyebabkan traffic jam wave.
Nah, sebelum Anda menginjakkan rem berikutnya, antisipasi untuk jarak dan perhatikan kemana kaki melangkah.. eh, menginjakkan pedal.
Ilmu ini cukup rumit, karena membutuhkan kemampuan matematika untuk menerimanya secara logika. Oleh karena itu kita sebut saja ini sebagai Ilmu Rematik-matika. Bahkan ada penelitian matematis dari MIT untuk masalah ini.
Solusi untuk masalah ini, dan beberapa masalah kemacetan lainnya dapat dilihat di situs ini.
10. 1 STUPID + 1 STUPID = 11 STUPID
Anda adalah orang Indonesia aseli apabila pernah meneriakkan “Dasar orang bodoh!” kepada orang lain yang tidak sependapat dengan Anda. Maka dari itu banyak perselisihan agama, perselisihan tanah, perselisihan harta, bahkan perselisihan pacar karena sering menganggap orang yang tidak sependapat dengan kita adalah orang bodoh.
Tapi memang ada orang-orang bodoh yang parkir di area jalan umum yang akibatnya menutup ruas jalan dan membuat jalan tersebut menjadi sempit. Atau ada juga, biasanya pengemudi motor, yang mengambil jalur arah sebaliknya sehingga menutupi jalur kendaraan yang berlawanan dan, tada, menyebabkan kemacetan selajuh 20km itu tadi.
Dan salah satu gangguan di jalan raya biasanya motor yang saat lampu merah tidak mau menunggu di belakang, atau di dalam garis, sehingga mereka maju menutupi clearance zone di perempatan, atau menutupi jalur untuk melintas alar sebaliknya, sehingga terjadi bottlenecking lagi.
Nah, orang kecil janganlah mengeluh karena macet, karena tanpa sadar kalianlah yang menyebabkan kemacetan itu.
* * * * * * * *

“Hati-hati ya, nak. Patuhi peraturan. Tepo seliro.. ” pesan orang tua yang masih belum terkontaminasi ibu kota
Jadi, dari 10 uraian di atas, sebenarnya masalah macet di Jakarta ini bukan berasal dari kurangnya jalur atau perlunya dibangun jalan layang. Masalah macet di Jakarta ini berawal dari manusia-manusianya. Yang tidak mau mengalah, tidak mau kompak, tidak mau kompromi, dan yang seharusnya bertanggung jawab tidak mau mengatur apabila tidak ada untungnya buat mereka.
Maka dari itu, dibangunlah jalan layang, proyek raksasa yang duitnya juga raksasa dan pasti jatahnya bisa raksasa.
Indonesia, Oh Indonesia..
Nah, maukah kita berubah?
Semua perubahan berawal dari kita – Confucius












Juara! Vote Chongky as governor!
setelah baca rasanya pengen coblos anal chongky
Auw auw conQy kenapa tahun ini nggak nyaleg sih? Ntar saya coblos semuanya deg….
Conky, Mira punya usul seandainya Conky menjadi Gubernur kota Pelangi “rezz”, yang ini tolong dibahas : Mira suka baca di Mobil Busway “jangan ambil jalan akuu…” mira boleh usul nanti mobil-mobil pribadi di pasang stiker “secara yey ambil jalan eke duluan” selain multi fungsi supaya gak kena panas matahari. gmn?