TOP vs BOTTOM

Image

Seolah bisa membaca pikiran saya, pada suatu siang yang cerah, seorang sahabat saya men-tweet suatu pernyataan yang bisa dianggap ‘kontroversial’ di kalangan gay. Dia bilang kira-kira begini: kenapa sih para gay suka mendiskriminasi teman sesama gay yang tidak melakukan seks anal?

Ini memang bukan isu baru dalam kalangan gay, tetapi, sayangnya, masih jarang orang yang berani mempertanyakan hal ini. Sampai saat ini pun saya masih sering terganggu ketika berkenalan dengan seseorang di grindr atau manjam dan tanpa tedeng aling-aling mereka membuka percakapan dengan pertanyaan klasik, “Kamu T atau B?”

Seberapa pentingkah sex role top dan bottom dalam kehidupan gay? Apakah kedua peran seksual itu merupakan sesuatu yang wajib dipilih oleh kita? Tidak adakah peran alternatif lain yang bisa dipilih?

 

 

Sampai saat ini, saya sendiri masih belum menemukan sejarah pelabelan top dan bottom ini, meskipun seks anal dan homoseksualitas sebenarnya sudah ada sejak zaman kuno dulu, setua peradaban homo sapiens itu sendiri. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan sex role ini. Tetapi, yang membuatnya menjadi problematis bagi saya adalah ketika sex role itu menjadi ‘kewajiban’ yang dipaksakan bagi seorang gay—seolah-olah untuk menjadi seorang gay, kita harus memilih salah satu peran seksual tersebut dan kewajiban ini diikuti dengan stereotipe dan konstruksi gender.

Kita memang sering banget mendengar istilah ‘gender’, terutama bila berbicara tentang kesetaraan gender. Pengertian kita juga sering salah ketika menganggap gender adalah ‘female/male’. Padahal, gender bukanlah sesuatu yang alamiah, seperti halnya penis dan vagina yang terberikan (given) sejak kita lahir. Gender adalah atribut yang berasal dari konstruksi sosial-budaya masyarakat setempat. Gender bisa menyangkut cara berpakaian, cara bertingkah laku, warna pakaian, hingga cara berpikir. Dan sekali lagi, ini semua bukanlah sesuatu yang alami. Ini adalah bentukan sosial-budaya. Oleh karena itu, gender yang seringkali diklasifikasikan sebagai maskulin vs feminin bisa berbeda-beda antara satu budaya dengan budaya lainnya. Misalnya, di Indonesia, rok biasanya digenderkan sebagai sesuatu yang feminin dan oleh karenanya hanya boleh dikenakan oleh perempuan. Sebaliknya, di Skotlandia, lelakinya mengenakan sesuatu yang mirip rok dan dianggap maskulin. Dari sana, terlihat jelas bagaimana gender bukanlah sesuatu yang alamiah dan hanyalah konstruksi sosial.

Lantas, apa hubungan gender dengan posisi seks top dan bottom?

Saya seringkali mendengar masih banyak gay yang melekatkan konstruksi gender tertentu pada peran seksual tersebut. Misalnya, bila ada lelaki yang kemayu, serta merta kita langsung melabelkannya sebagai ‘bottom’. Sementara, bila ada lelaki yang gagah bak militer, kita akan langsung bilang kalau dia ‘top’. Dan lagi, stereotipe ini berkembang semakin jauh saat ‘bottom’ biasanya dibilang ‘posesif’ dan ‘lemah’, sementara yang ‘top’ dibilang ‘lebih mengayomi’, ‘aktif’, dan ‘memiliki naluri memimpin’. Secara langsung, dengan berpikiran seperti itu, kita telah terjebak dalam stereotipe gender bahwa seolah-olah “TOP = MASKULIN” dan “BOTTOM = FEMININ”. Padahal, klaim tersebut tidak bisa dibuktikan secara alamiah dan digeneralisasikan. Contohnya, banyak waria (yang notabene berperilaku feminin) suka melakukan penetrasi kepada kliennya yang kebanyakan adalah lelaki yang dianggap ‘macho’ oleh standar masyarakat kita. Saya juga sering mendengar cerita dari teman-teman gay bahwa banyak lelaki yang berotot (amat sangat maskulin) yang ternyata adalah bottom.

Berangkat dari pemahaman dan selentingan tersebut, seharusnya kita benar-benar menyadari bahwa gender dan perilaku seksual tidak ada sangkut pautnya seratus persen. Seksualitas manusia itu adalah sesuatu yang kompleks, yang tidak bisa direduksi hanya ke dalam stereotipe top vs bottom yang selama ini beredar.

Dan satu hal yang menjadi ‘gugatan’ saya adalah ketika kita mengekslusi teman-teman kita yang memang tidak memilih peran top-bottom, alias tidak melakukan penetrasi dalam berhubungan seks. Sekali lagi, hubungan seks adalah pilihan dan konsensus antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya—baik dalam hubungan homoseksual atau heteroseksual. Bila ia memang memilih untuk tidak melakukan penetrasi dan lebih memilih variasi lainnya, mengapa kita harus menganggapnya aneh? Bila kita dengan mudahnya melakukan alienasi terhadap teman-teman kita yang seperti itu, apa bedanya kita dengan para lelaki-perempuan heteroseksis yang homophobic itu?

4 responses on “TOP vs BOTTOM

  1. wah saya setuju sekali.. dengan mas/mba annabenchong.. ibu ibu gini saya Top loh…

  2. saya setuju sama mba annabenchong urusan ranjang mah nomor sekian namanya mau enak cari yg enak ajah. nah tapi role yg kalo siapa yg jadi lakinya trus sok-sokan mendewasai dan mengayomi aduh saya bingung… dan sebaliknya rolenya jadi cewenya kadang dicewe-cewein dikit2 mewek, drama, dimanja2in jadi pengen saya suruh pake mini skirt trus dikepang jadiin asisten saya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s