PILKADA TIDAK LANGSUNG MEMATIKAN EKONOMI

Yang jelas banyak hal yang akan hilang karena Pemilihan Pilkada Tidak Langung itu.

Dari segi kerakyatan, Pemimpin Daerah pastinya bukan perwakilan aspirasi rakyat. Toh kesalahan rakyat sekarang ini adalah kurang pedulinya terhadap pemilihan legislative sehingga melahirkan pengisi-pengisi kursi di DPR dan DPD yang bukan wakil dari rkayat secara mayoritas tapi hanya perwakilan dari partai-partai karena yang maju dan memilih yang para anggota dan pendukung partai.

Bahkan hari ini pun dilantik ketua dewan yang harusnya mewakili rakyat, namun dia sudah bolak-balik terjerat kasus hukum. Kalau perwakilan rakyatnya saja sarat kasus hukum, artinya seluruh rakyat Indonesia suka dengan kasus hukum dong?

Lalu wakilnya pun diwakili dengan sosok yang mulutnya asal ngomong dan tidak terdengar bijaksana. Apa ya itu benar-benar mewakili rakyat. Kalau wakil rakyatnya seperti itu, apa bukan berarti Indonesia ini bangsa yang bicaranya tidak punya aturan, padahal dengan otak hiper-relijiusnya saja selalu menggembor-gemborkan adat ketimuran yang harusnya santun baik dalam bertutur kata maupun bertindak?

Yang jelas dengan Pilkada Tidak langsung ini tugas KPUD akan berkurang, bahkan cenderung tidak diperlukan lagi. Dan Pemilu Daerah pun akan hilang. Bersamaan dengan hilangnya perekonomian yang menunjang acara-acara kerakyatan itu.

Alasan utama mereka menghilangkan Pilkada Langsung karena biaya. Toh biaya juga uang rakyat, yang dibalikkan ke rakyat lagi, untuk rakyat. Kenapa mereka yang mempermasalahkan?

Proses perekenomian yang mendukung pengadaan kertas pemilu, pengamanan pemilu, pengadaan barang-barang kegiatan pemilu, dan bahkan sektor keuangan dan sektor pelaksanaan seperti EO dan Advertising yang mana penyumbang pajak cukup besar, juga akan berkurang, dan hilang.

Jadi apa mereka masih saja hanya memikirkan perut mereka?

Wakil rakyat macam apa itu yang tidak memikirkan terganggunya ekonomi karena dihapusnya Pemilu Kepala Daerah hanya karena mereka salah satu dari mereka tidak tercapai impiannya menjadi presiden?

Mungkin sudah saatnya anak muda turun lagi dan menggulirkan para kakek-kakek itu dari mimpi siangnya.

ChristianEducationHeadc

Q Film Festival di Sekolah Tinggi Teologi Jakarta??? Whaaaaat???

Mungkin kamu juga akan mengalami reaksi yang sama dengan saya ketika membaca nama lokasi salah satu tempat screening QFF 2014 ini. Waktu itu saya kaget sekaligus bertanya2, “Ko bisa ya Sekolah Tinggi Teologi (STT) yang jelas2 sekolah untuk jadi seorang Pendeta Kristen nayangin film2 QFF?”.

Btw, QFF atau Q Film Festival itu adalah Festival Film LGBT yang diadain di Indonesia. Tahun ini (2014) adalah penyelenggaraan yang ke 13 dan diadain di 13 lokasi di Jakarta dari 19 – 28 September 2014. Sedikit lebih detail ditulis sama sister kita Kelly Clarkconq beberapa hari yang lalu. Hari ini adalah penutupan QFF 2014 yang diadain di Teater Usmar Ismail dengan konser musik yang luar biasa indahnya. Buat kamu yang belum sempet nonton, jangan khawatir! Tahun depan pasti ada lagi. Tunggu aja jadwalnya di www.qmunity-id.org di waktu yang kurang lebih sama.

OK, balik ke STT yang jadi salah satu lokasi screening film QFF. Waktu itu reaksi spontan saya yang negatif adalah “hmmm… jangan2 STT ini mau coba2 cari database untuk mengembalikan LGBT ke jalan yang benar (yakali skrg jalannya salah??) alias bikin LGBT jadi straight dengan reparative therapy yang banyak dipraktekan gereja2 lain”.

Saking penasarannya, akhirnya waktu itu saya langsung tanya ke Pdt. Drs. Stephen Suleeman, MA.Th, Th.M. atau yang biasa dipanggil Pak Stephen. Waktu itu, tepatnya Hari Selasa, 23 September 2014 sedang diadakan diskusi Q! Gossip dengan tema “Straight Looking @ You”. Diskusi ini di-moderatori oleh Dave Hendrik bersama dengan 3 Narasumber dari background yang beda2. Hampir seluruh kursi penuh hari itu yang ternyata sebagian besar diduduki oleh Mahasiswa STT Jakarta.

stephen%20suleeman

Pertanyaan saya ke Pak Stephen ada 2 : “Apakah dukungan STT kepada QFF tidak takut dibilang keluar ‘jalur’ Kristen?” dan “Apakah STT tidak takut dikritik oleh lembaga2 Kristen lain karena telah mendukung QFF sebagai salah satu aktifitas LGBT?” Pas nanya saya sebenernya agak takut2 karena isunya cukup sensitif. LGBT vs Kristen, dengernya aja udah serem, dibahas di STT pula, bisa2 abis bahas langsung disirem bensin terus dibakar :b. Ternyata nggak lho, mereka itu seperti udah sangat biasa ditanya hal seperti itu dan mereka nggak merasa ‘keluar jalur’ sama sekali.

Pak Stephen dengan senyumnya yang manis dan ekspresi yang sangat ke-bapak-an menjawab 2 pertanyaan saya sambil didukung oleh banyak mahasiswa STT yang terlihat sangat mengagumi sosok Pak Stephen ini. Beliau cerita kalau STT memulai aktivitas yang dekat dengan LGBT sejak tahun 1993 dengan mengirimkan mahasiswa2 Praktik Lapangan di beberapa lembaga LGBT. Waktu itu beliau belum secara terbuka memberikan dukungannya terhadap LGBT, karena tentu saja waktu itu perkembangan sosial masyarakat kita belum seperti sekarang. “Kita sudah mulai mengadakan aktifitas LGBT sejak 1993 dan baru tahun 2009 kita berani open tentang dukungan kita tersebut. Jadi sekitar 15 tahunan lah kita baru berani” begitu kata Pak Stephen. Sampai sekarang sudah cukup banyak aktifitas STT yang mendukung LGBT seperti LGBT Goes to Campus, dukungannya terhadap QFF dan aktifitas2 lainnya.

Waktu itu Beliau juga cerita kalau tujuan STT mendukung kegiatan LGBT adalah untuk membentuk lebih banyak straight aliies. Straight allies adalah straight yang dekat, mengerti dan mendukung kelompok LGBT. Menurut STT, adanya straight allies dapat menjembatani straight dengan kelompok LGBT sehingga secara tidak langsung bisa mengurangi bully terhadap LGBT, meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap LGBT dan pengaruh2 baik lainnya. Makanya waktu diskusi ini banyak mahasiswa STT yang datang. “Kita bangga bisa jadi salah satu partner QFF, makanya kita dorong mahasiswa kita untuk bisa ikut diskusi ini” tutup Pak Stephen.

Gimana? Waktu itu sih jujur aja kaget banget denger cerita2 Pak Stephen. Boro2 reparative theraphy, ternyata dukungan STT terhadap kegiatan LGBT udah banyak banget. Saya pribadi sangat appreciate terhadap apa yang udah dilakuin STT dan kagum sekagum kagumnya karena STT berani untuk ambil langkah besar yang beresiko demi menjalankan apa yang STT anggap baik.

Dibawah ini ada alamat dan link website STT, siapa tau kamu mau tau lebih banyak :) Rencananya STT juga mau buat kebaktian regular bulanan tapi belum tau mulainya kapan. Pantau terus ya! Siapa tau kita bias ketemu disana #reuusss :b

Jl. Proklamasi No. 27, Jakarta 10320
Telp. +62 21 390 4237
Fax: +62 21 315 3781 & 62 21390 6096
Email: sttj@sttjakarta.ac.id

Website : http://sttjakarta.ac.id/

Note : Quote, foto dan informasi tentang STT Jakarta sudah mendapatkan izin dari yang bersangkutan.

Emma-Watson-images

Emma Watson on Feminism

Mendengar kata “Feminist”, yang sempat terbayang di benak Anna adalah perempuan-perempuan berwajah galak, berkoar-koar membawa spanduk, dan terlihat sangat membenci pria. Image “Feminist” yang sangat keras ini sepertinya malah menghambat perkembangan gender equality bagi kaum perempuan.

Minggu kemarin, aktris Harry Potter Emma Watson, yang kini menjadi celebrity Ambassador untuk PBB, berbicara di depan delegasi-delegasi PBB lainnya mengenai kampanye terbarunya yaitu “He For She” Campaign. Lewat pidatonya, ia mengutarakan mengenai kegusarannya akan penggambaran “Feminist” yang sangat ekstrim ini. Menurutnya, ketidakadilan gender bukan hanya merugikan kaum perempuan tetapi juga kaum pria. Stereotype Maskulinitas sangat didamba-dambakan di lingkungan masyarat kita. Pria-pria sering dianggap kurang “macho” karena mereka terlihat bebas mengutarakan perasaan mereka. Pria tidak boleh terlihat lemah karena takut dianggap seperti perempuan.

_77758566_if-men-don't-have-control

Lewat kampanye “He for She”, Emma Watson mengajak kaum pria untuk ikut menjadi feminis. Ikut memperjuangkan hak-hak kesetaraan gender. Anna terharu mendengar pidato Emma yang sangat jujur, rendah hati, tidak muluk-muluk tetapi tepat sasaran.

Bagi teman-teman CONQ yang belum menonton pidato Emma Watson, silahkan dilihat disini:

Bagi yang ingin ikutan kampanye He For She, bisa ke website mereka yaitu www.heforshe.org

laurence-anyways

Q Film Festival 2014

Screen Shot 2014-09-25 at 2.20.24 PM

“Your country has annual LGBT film festival?” seru seorang teman dari luar negeri. Takjub, karena yang dia dengar Indonesia masih di bawah bayang-bayang ormas ekstrimis yang menjaga nilai moral bla bla bla.

Well ain’t we survivors? Q film Festival sudah memasuki tahun ke-13. Di 19-28 September ini, bukan hanya screening film bertema LGBT, ada juga event art exhibition, talk show dan literatur. Untuk jadwal film dan program lengkap, cek di: www.qmunity-id.org

image

Dan kita senang banget, karena Conq web series episode 5 akan ditayangkan pertama kalinya di Q Film Festival tanggal 26 September 2014! Jam 7 malam di Binus International mall fX, Maraton bersama dengan episode 1 sampai 4. Seats terbatas untuk 100 penonton, jadi disarankan untuk datang awal untuk ngantri tiket.

image

Q Film Festival terbuka untuk umum, penonton berumur 18 tahun ke atas. (Jangan lupa bawa KTP). Semua pemutaran gratis, tapi tersedia donation box yang bisa diisi secara sukarela. Tiket gratis bisa diambil langsung di venue mulai 30 menit sebelum pemutaran film. (again…) Disarankan datang awal supaya nggak kehabisan tiket.

image

Banyak dari venue pemutaran Q Film Festival yang lumayan dingin alias Frozen. Inilah kesempatan bagi kita semua untuk show-off winter collection yang selama ini teronggok di dalam lemari pakaian. Flaunt those (faux) fur coat, shawl, jacket, and layered outfit! Stylish sekaligus menghindari kerokan masuk angin setelah pemutaran film.

See you at Q Film Festival!

Twitter: @qfilmfestival

Instagram: @qfilmfestival_

http://www.qmunity-id.org

Gay & Lesbian Indonesians view on life, love, fashion, health, and politics

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,168 other followers

%d bloggers like this: