Tes HIV Gratis Ruang Carlo RS. St. Carolus

Kelly sedang dalam perjalanan menuju bioskop XXI Taman Ismail Marzuki Cikini. Masih ada waktu 3 jam sebelum filmnya. Mendadak ingat, Rumah Sakit St. Carolus kan nggak jauh. Bisa tes HIV gratis di Ruang Carlo, yang ada di CONQ webseries episode 4, ‘The Test’ itu loh.

Tiba di RS. St. Carolus. Kelly nanya ke security tentang arah menuju Ruang Carlo. Posisinya di dekat Ruang Fisioterapi.

img_20150115_151838-resized-800

Hampiri meja resepsionis untuk mengisi form surat pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Seksual). Data kita akan dijamin kerahasiaannya. Data yang terkumpul ini akan sangat membantu pemetaan statistik HIV. Setelah isi form, kita akan diminta menunggu panggilan di ruang tunggu yang dilengkapi TV.

img_20150115_144108-resized-800

5 Menit menunggu, Kelly dipanggil ke dalam ruang pemeriksaan. Suster mengambil darah dari lipatan lengan sebanyak 5 cc, Lalu ditutup dengan plester kotak kecil imut. Beres. Nggak usah angkat tangan seperti pas donor darah. Kelly diminta menunggu 1 jam untuk hasil pemeriksaan. waktu menunjukkan jam 3 sore. Masih ada sisa waktu 2 jam.

img_20150115_145711-resized-800

Sambil menunggu 60 menit, bisa jajan bakso dan lainnya di luar pagar St. Carolus. Ada juga kantin di dalam. Masih sisa waktu 20 menit. Keliling Rumah sakit, ah.

img_20150115_152209-resized-800
Ini ternyata St. Carolus nya.

60 menit berlalu. Mari kembali ke resepsionis Ruang Carlo dan mengambil hasil tes. Ternyata… masih disuruh nunggu. Kelly menunggu dengan manis, lalu mulai gelisah saat 15 menit kemudian belum dipanggil juga. Film di Bioskop akan mulai 45 menit lagi. Akhirnya nanya lagi dengan ga enak

“Apa saya kembali besok saja? Soalnya ada janji.”

Resepsionis menunjukkan barisan amplop yang dia terima,

“Ini sudah ada amplopnya, ditunggu saja, ya.” (dengan wajah “Sabar, Nyet”).

Kelly kembali menunggu (dengan wajah cemberut “Orang ngejar waktu, Nyet”).

img_20150115_161947-resized-800
Penantian tanpa Kepastian.

Jadi kronologisnya:

14:55 Masuk Ruang pemeriksaan

15:55 Kembali untuk ambil hasil Tes, belum ada. Disuruh nunggu

16:10 Nanya apa kembali besok saja. Amplop hasil tes sudah ada. Disuruh nunggu.

16:20 Resepsionis masih dengan santai beraktifitas di meja. Kelly mulai kebakaran j*mbut.

16:25

Kelly bertanya lagi. kali ini tanpa nada nggak enak.

“Maaf saya ada janji jam 5. Saya kembali besok saja.”

Resepsionis menjawab “Dokter yang akan membacakan hasil tes pasien. Setelah ini bapak, ya.”

Kurang lebih 16:30 baru dipanggil masuk, dan dokter membacakan hasil tes sekaligus menanyakan aktivitas seksual (lagi-lagi untuk keperluan statistik. Data dijamin kerahasiaannya). Ternyata selain HIV, tesnya termasuk sifilis. Negatif. Kelly aman. Tapi berhubung Kelly aktif ‘jajan’, disarankan untuk tes setiap 3 bulan sekali. (window period virus HIV sebelum terdeteksi adalah 3 bulan). Selama ini tesnya setahun sekali. Dan diberi wejangan terakhir: “Oral sex juga tetap harus pakai kondom, ya”. Nggak konsen lagi. Udah mesti buru-buru ke XXI TIM ngejar jam tayang film pukul 17:00.

Salut dengan tersedianya Tes HIV Gratis Ruang Carlo RS. St. Carolus. Akses mudah, dan tesnya juga termasuk pendeteksian IMS sifilis. Yang disayangkan, petugasnya tidak memberikan keterangan jelas tentang kapan hasil tesnya bisa diambil. Meskipun ditanya berulang-ulang, dijawab “Tunggu saja”.  Ada baiknya meluangkan waktu 2 jam, meskipun petugas memberitahukan hasil keluar dalam 1 jam.

Buat teman-teman CONQ yang aktif dating plus plus dan belum tes HIV, mari ke Ruang Carlo. Mengetahui status kamu akan membebaskan dari kekhawatiran, sekaligus mencegah penyebaran virus HIV.

img_20150115_145635-resized-800

Ruang Carlo

Rumah Sakit St. Carolus

Jl. Salemba Raya No. 41, Jakarta 10440. (Google maps: http://goo.gl/maps/IgrME)

Telp. 021-23567927.

Jam buka:

Senin-Jumat, 08:00 – 20:00

Sabtu, 08:00 – 12:00

Minggu libur

Tips:

Yang males rame dan antri, disarankan datang pagi (buka mulai jam 8 pagi).

Tes di Ruang Carlo Gratis. Tapi yang ingin menyumbang untuk keberlangsungan kegiatan Ruang Carlo, bisa mengubungi petugas untuk donasi.

Reaching People Through Social Media

27_Jan_-_Reaching_People_Through_Social_Media_eposter_1024_REV3

 

The use of social media in raising HIV & AIDS awareness has been proven to be effective in reaching the CONQ community. What are the tools in creating a successful social media campaign?  How do we reach the audience, entertain them, yet at the same time getting our message across without being patronising?

CONQ, along with GWL-INA, SUM I, DKI Jakarta Provincial AIDS Commission, and Puskesmas Pasar Rebo, will conduct a discussion about promoting HIV & AIDS Campaign using Social Media.

The event will be held at @america Pacific Place, Tuesday January 27, 2015 from 5 to 7 PM.

Come over and let’s have a discussion!

 

Negativity: Kenapa Orang Lebih Suka Membicarakan Negativity Orang Lain

Kemarin pada saat pelantikan menteri Kabinet Kerja, Menteri Susi paling banyak dibicarakan. Bukan karena kesuksesannya dalam membangun bisnis raksasa dengan puluhan pesawat terbang dan bisnis hasil laut yang kelas ekspor dunia, tapi lebih kepada kebiasaan merokoknya, dan tattoo di kakinya, dan tentang putus sekolahnya.

The fabulous Menteri Susi
The fabulous Menteri Susi

 

Menteri Susi pun sudah berkomentar tentang itu, bahwa media itu sekarang hanya mencari sensasi, tapi tidak memikirkan efek bagusnya untuk bangsa. Mereka selalu membesarkan masalah rokok dan tattoo, dan proses pendidikan yang tidak tamat wajib belajar.

Sekolah itu penting. Yang tidak tamat sekolah harus bekerja 3 kali lebih keras untuk bertahan hidup,” ujarnya. Dan merokok juga tidak ada buruknya dibandingkan dengan mereka-mereka yang korupsi atau berakhlak rendah. Toh merokok hanya merugikan diri sendiri, sementara korupsi merugikan seluruh bangsa dan wakil rakyat berakhlak rendah hanya mempermalukan negara.

Secara psikologi, mereka yang suka membicarakan negatifnya orang lain sebenarnya karena ingin cari teman, bahwa ada orang lain yang juga mempunyai banyak kekurangan. Semakin sering melihat kekurangan orang lain, semakin banyak sebenarnya kekurangan mereka sendiri. Mungkin they need to feel good about themselves, jadi menutupi kekurangannya dengan membahas kekurangan orang lain. Seolah-olah membandingkan diri siapa yang lebih buruk. Kalo kamu gimana, conqs?

Situasi ini juga sama persis saat teman Chongky membahas episode-episode Conq Webseries. Banyak yang lucu-lucu yang membuat kita tertawa karena merasa itulah yang terjadi di kehidupan cong di ibukota pada umumnya, dan kita tertawa karena kita tau, we can reflect ourselves on it, tapi banyak juga orang yang mencibir isi yang dianggapnya murahan itu.

CONQ Web Series di JAKARTA GLOBE
CONQ Web Series di JAKARTA GLOBE

 

Memang mungkin mereka mencoba menjadi kritis, dan mungkin para aktivis juga tidak setuju dengan penggambaran stereotype kehidupan gay ini, atau ada juga yang memang kehidupannya memang berbeda dari penggambaran Conq Webseries, namun tidak bisa dipungkiri kejadian-kejadian itu memang ada. Dan suka ngga suka kita seharusnya mengambil positifnya, sehingga bisa bertindak lebih baik ke depannya setiap mengingat kejadian-kejadian yang digambarkan di Conq Webseries.

Tujuan dari Conq Webseries sendiri lebih membahas topik-topik kehidupan yang sebenarnya. Tidak membalutnya dengan pemanis-pemanis yang seperti banyak digambarkan di film-film atau TV. Toh semua kehidupan pasti terisi dengan hal-hal yang hedon, baik itu kehidupan orang regular, kehidupan conq, kehidupan sosialita, maupun kehidupan akar rumput. Semua orang ingin menikmati hidup, semua orang ingin merasakan yang enak-enak, dan semua orang ingin bersenang-senang dengan cara dan kemampuannya sendiri.

Kalo menurut Chongky sih ya, episode-episode yang sudah ada di Conq Webseries itu menggambarkan, sbb:

Episode 1: tentang makna kata “gay” dan pengaruhnya ke stereotyping gay life di Indonesia

Episode 2: tentang diskriminasi antar sesame gay sendiri, terutama lewat app seperti Grindr atau Facebook

Episode 3: tentang penggambaran karakter HIV positif yang secara positif

Episode 4: tentang testing HIV dan ketidakefektifan LSM dalam penggalangannya

Episode 5: tentang kebahagiaan semu

Episode 6: tentang penilaian orang akan masa lalunya

Mungkin jadi Chongky salah analisa, mungkin juga ada pendapat lain mengenai kisah-kisah webseries itu. Tapi yang jelas mungkin Chongky orang yang terlalu positif saja, sehingga selalu menganalisa banyak hal dari segi positifnya. Toh kita belajar dan berkembang bila kita mempunyai pandangan positif, beranggapan bahwa sesuatu akan menjadi baik atau besar jika diusahakan.

Ada celetukan yang mana mencela bahwa webseries isinya tentang hedonisme dunia gay. Well, otak kita hanya melihat dan menerima apa yang kita bisa pahami, jadi jangan salahkan produser webseries kalau yang dilihat dari webseries hanya soal hedonisme dan kefanaannya kan, bro!

Gay & Lesbian Indonesians view on life, love, fashion, health, and politics

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,659 other followers

%d bloggers like this: