FIlm The Sun, The Moon & The Hurricane di Blitz Arthouse

The Sun, The Moon & The Hurricane at Blitz Arthouse.
The Sun, The Moon & The Hurricane at Blitz Arthouse.

Setelah berkeliling ke berbagai festival film internasional, Film “The Sun, The Moon & The Hurricane” yang disutradarai oleh Andri Cung akan tayang di Blitz Arthouse, bioskop Blitzmegaplex Mal Pacific Place. Siap-siap pasang reminder, pilih dari 4 jam tayang berikut ini:

Jumat, 20 Maret 2015, Pukul 17:00

Sabtu, 21 Maret 2015, Pukul 19:00*

Jumat, 27 Maret 2015, Pukul 19:00

Sabtu, 28 Maret 2015, Pukul 17:00

*Screening Sabtu, 21 Maret akan dihadiri cast & crew dan disertai sesi Q & A.

Film “The Sun, The Moon & The Hurricane” menceritakan perjalanan hidup pria bernama Rain, dan orang-orang yang dia temui, yang memberi dia kebahagiaan, kehampaan, membentuk kepribadiannya seiring dia tumbuh menjadi pria dewasa.

I am not afraid of being old.

I am afraid of being… old and lonely.

-Rain- “The Sun, The Moon & The Hurricane”

Don’t miss the chance to watch these limited screenings!

Bask yourself in the warmth of the sun,

Sit alone while gazing at the moon,

Shiver as the hurricane approach.

CAST
William Tjokro : Rain
Natalius Chendana : Kris
Cornelio Sunny : Will
Gesata Stella : Susan
Paul Agusta : Oom

Genre : Drama – Fiction / Narrative / Live-Action
Dialogue : Bahasa Indonesia & English
Shooting Location : Bali & Jakarta, Indonesia and Bangkok, Thailand
Est. Running Time : 101 Minutes

http://tstmth.tumblr.com

Tes HIV Gratis Ruang Carlo RS. St. Carolus

Kelly sedang dalam perjalanan menuju bioskop XXI Taman Ismail Marzuki Cikini. Masih ada waktu 3 jam sebelum filmnya. Mendadak ingat, Rumah Sakit St. Carolus kan nggak jauh. Bisa tes HIV gratis di Ruang Carlo, yang ada di CONQ webseries episode 4, ‘The Test’ itu loh.

Tiba di RS. St. Carolus. Kelly nanya ke security tentang arah menuju Ruang Carlo. Posisinya di dekat Ruang Fisioterapi.

img_20150115_151838-resized-800

Hampiri meja resepsionis untuk mengisi form surat pemeriksaan IMS (Infeksi Menular Seksual). Data kita akan dijamin kerahasiaannya. Data yang terkumpul ini akan sangat membantu pemetaan statistik HIV. Setelah isi form, kita akan diminta menunggu panggilan di ruang tunggu yang dilengkapi TV.

img_20150115_144108-resized-800

5 Menit menunggu, Kelly dipanggil ke dalam ruang pemeriksaan. Suster mengambil darah dari lipatan lengan sebanyak 5 cc, Lalu ditutup dengan plester kotak kecil imut. Beres. Nggak usah angkat tangan seperti pas donor darah. Kelly diminta menunggu 1 jam untuk hasil pemeriksaan. waktu menunjukkan jam 3 sore. Masih ada sisa waktu 2 jam.

img_20150115_145711-resized-800

Sambil menunggu 60 menit, bisa jajan bakso dan lainnya di luar pagar St. Carolus. Ada juga kantin di dalam. Masih sisa waktu 20 menit. Keliling Rumah sakit, ah.

img_20150115_152209-resized-800
Ini ternyata St. Carolus nya.

60 menit berlalu. Mari kembali ke resepsionis Ruang Carlo dan mengambil hasil tes. Ternyata… masih disuruh nunggu. Kelly menunggu dengan manis, lalu mulai gelisah saat 15 menit kemudian belum dipanggil juga. Film di Bioskop akan mulai 45 menit lagi. Akhirnya nanya lagi dengan ga enak

“Apa saya kembali besok saja? Soalnya ada janji.”

Resepsionis menunjukkan barisan amplop yang dia terima,

“Ini sudah ada amplopnya, ditunggu saja, ya.” (dengan wajah “Sabar, Nyet”).

Kelly kembali menunggu (dengan wajah cemberut “Orang ngejar waktu, Nyet”).

img_20150115_161947-resized-800
Penantian tanpa Kepastian.

Jadi kronologisnya:

14:55 Masuk Ruang pemeriksaan

15:55 Kembali untuk ambil hasil Tes, belum ada. Disuruh nunggu

16:10 Nanya apa kembali besok saja. Amplop hasil tes sudah ada. Disuruh nunggu.

16:20 Resepsionis masih dengan santai beraktifitas di meja. Kelly mulai kebakaran j*mbut.

16:25

Kelly bertanya lagi. kali ini tanpa nada nggak enak.

“Maaf saya ada janji jam 5. Saya kembali besok saja.”

Resepsionis menjawab “Dokter yang akan membacakan hasil tes pasien. Setelah ini bapak, ya.”

Kurang lebih 16:30 baru dipanggil masuk, dan dokter membacakan hasil tes sekaligus menanyakan aktivitas seksual (lagi-lagi untuk keperluan statistik. Data dijamin kerahasiaannya). Ternyata selain HIV, tesnya termasuk sifilis. Negatif. Kelly aman. Tapi berhubung Kelly aktif ‘jajan’, disarankan untuk tes setiap 3 bulan sekali. (window period virus HIV sebelum terdeteksi adalah 3 bulan). Selama ini tesnya setahun sekali. Dan diberi wejangan terakhir: “Oral sex juga tetap harus pakai kondom, ya”. Nggak konsen lagi. Udah mesti buru-buru ke XXI TIM ngejar jam tayang film pukul 17:00.

Salut dengan tersedianya Tes HIV Gratis Ruang Carlo RS. St. Carolus. Akses mudah, dan tesnya juga termasuk pendeteksian IMS sifilis. Yang disayangkan, petugasnya tidak memberikan keterangan jelas tentang kapan hasil tesnya bisa diambil. Meskipun ditanya berulang-ulang, dijawab “Tunggu saja”.  Ada baiknya meluangkan waktu 2 jam, meskipun petugas memberitahukan hasil keluar dalam 1 jam.

Buat teman-teman CONQ yang aktif dating plus plus dan belum tes HIV, mari ke Ruang Carlo. Mengetahui status kamu akan membebaskan dari kekhawatiran, sekaligus mencegah penyebaran virus HIV.

img_20150115_145635-resized-800

Ruang Carlo

Rumah Sakit St. Carolus

Jl. Salemba Raya No. 41, Jakarta 10440. (Google maps: http://goo.gl/maps/IgrME)

Telp. 021-23567927.

Jam buka:

Senin-Jumat, 08:00 – 20:00

Sabtu, 08:00 – 12:00

Minggu libur

Tips:

Yang males rame dan antri, disarankan datang pagi (buka mulai jam 8 pagi).

Tes di Ruang Carlo Gratis. Tapi yang ingin menyumbang untuk keberlangsungan kegiatan Ruang Carlo, bisa mengubungi petugas untuk donasi.

Reaching People Through Social Media

27_Jan_-_Reaching_People_Through_Social_Media_eposter_1024_REV3

 

The use of social media in raising HIV & AIDS awareness has been proven to be effective in reaching the CONQ community. What are the tools in creating a successful social media campaign?  How do we reach the audience, entertain them, yet at the same time getting our message across without being patronising?

CONQ, along with GWL-INA, SUM I, DKI Jakarta Provincial AIDS Commission, and Puskesmas Pasar Rebo, will conduct a discussion about promoting HIV & AIDS Campaign using Social Media.

The event will be held at @america Pacific Place, Tuesday January 27, 2015 from 5 to 7 PM.

Come over and let’s have a discussion!

 

Charlie Hebdo vs Warkop DKI

Saya itu penggemar film warkop.  Dulu, kalau nonton film warkop, kelompok lawak yang beranggotakan Dono, Kasino, Indro ini selalu menyertakan slogan “Tertawalah Sebelum Tertawa itu Dilarang” di akhir pemutaran film mereka. Slogan ini ditempatkan selepas cerita habis dan sebelum credit title. Menurut saya, kelompok lawak ini visioner sekali.

Tidak ada waktu yang paling tepat membahas slogan ini selain saat ini. Warkop DKI seakan-akan paham benar bahwa tertawa itu punya portensi untuk dilarang. Di tulisan ini saya akan membahas seberapa mungkin humor dianggap melewati batas? Apa sumbangan humor bagi peradaban manusia? Bagaimana humor diformulasikan? Sedikit latar belakang mengenai mengenai media di Prancis akan sedikit dibahas untuk memberikan konteks terhadap penulisan ini.

A man holds a placard which reads "I am Charlie" to pay tribute during a gathering at the Place de la Republique in Paris

Di awal 2015, dunia dikejutkan dengan peristiwa penembakan yang terjadi di kantor majalah Charlie Hebdo di Paris, Prancis. Penembakan ini dilakukan oleh sekelompok orang yang meneriakkan “Allahu Akbar” kepada 12 orang di kantor majalah tersebut. Empat orang anggota redaksi majalah meninggal dunia di tempat, salah satunya adalah pemimpin redaksi majalah tersebut. Penembakan ini terjadi lantaran ada sekelompok orang yang tidak menyukai isi komik yang diterbitkan oleh majalah Charlie Hebdo. Majalah ini memang kerap memasukkan isu agama sebagai bagian dari humor dalam bentuk komik. Tidak hanya Pope Francis, Nabi Muhammad dan beberapa tokoh Islam lainnya juga kerap dijadikan bahan lelucon yang diterbitkan majalah Charlie Hebdo. Di salah satu komiknya, ia menuliskan “100 cambukan ya, kalau nggak mati tertawa….”

220px-Charliehebdo
“100 cambukan ya kalau tidak mati tertawa…”

Melihat dinamika media di Prancis tidak bisa sama dengan melihat media di Indonesia.

Di Indonesia, media dibangun berdasarkan pasar. Misalnya, media Islam dibangun karena ada pasar religius di market tersebut. Ada pula media yang dibentuk berdasarkan etnis tertentu, karena memang ada pasarnya di Indonesia. Ini terjadi karena media di Indonesia pemahamannya adalah rating-based atau readership-based. Jadi di Indonesia memang number-driven sekali. Misalnya, banyak orang yang nggak tau jika kita nggak suka dengan konten media, marah-marah di social media malah akan berdampak merugikan juga. Expressing anger and disappointment regarding media ethics on social media will backfire, because TV executives also monitor our status updates, Tweets, memes – and these translate into viral marketing (commerciable). The more we complain, the higher the exposure, and higher goes the advertising revenue. It’s just how the game is played.

 Kalau media di Prancis dibangun berdasarkan ideologi politik, sayap kanan atau sayap kiri? Atau di tengah-tengah? Atau perpaduan sedikit sayap kiri dan banyak sayap kanan, dan sebagainya. Makanya kalau kita baca satu kejadian, koran Le Monde sama Le Figaro bisa beda banget cara menarasikan beritanya. Apalagi Charlie Hebdo! Charlie Hebdo itu sayap kiri. Sayap kiri itu artinya sosialis. Sosialis itu artinya nggak percaya sama hierarki sosial. Dia nggak peduli kalau bapak kita jendral atau kita anak pemulung. Nggak ada kompromi. Nah, begitu juga kalau memuat tentang isu-isu agama. Kalau Charlie Hebdo bisa bikin materi tentang Pope Francis, kenapa Nabi Muhammad nggak bisa?
 Charb-Charlie-Hebdo
Di sinilah humor dan komik berpotensi untuk disalahartikan, dan mungkin, meminjam istilah Warkop DKI, bisa “dilarang”. Banyak orang yang berusaha untuk menarik batasan humor. Jawaban yang paling santer adalah kaidah normatif. Tapi menurut saya, kaidah normatif ini adalah produk yang subjektif. Beda orang, beda norma. Nggak adil jika kita menyamaratakan semua orang harus menganut norma yang sama. Namun, di sisi yang lain, secara pribadi, saya merasa norma itu adalah konsep yang selalu harus dipertanyakan untuk kebaikan peradaban manusia itu sendiri. Indeed, the society must willing to challenge their norm and values in order to advance its civilisation. Kalau normanya gitu-gitu aja, gimana peradaban bisa maju? Kalau kita ngikutin norma lima puluh tahun yang lalu, perempuan itu tempatnya di dapur. Untungnya kita selalu bisa mempertanyakan hal-hal yang berfsifat normatif. Dan di sinilah komik dan humor mengisi salah satu fungsinya di masyarakat.

Mungkin pemahaman saya tentahg humor ini nggak bisa dilepaskan dari identitas saya. Dilahirkan sebagai seorang gay, saya harus bisa menerima bahwa saya datang dari komunitas yang masih saja suka disalahairtikan, menjadi bahan lelucon, dan tertawaan. Buat mereka, ngatain–maaf–bencong, banci, dan menggunakan kata ‘normal’ itu lucu, tapi buat saya enggak. Buat mereka itu semua lelucon tapi buat saya, kata-kata itu merendahkan.

Namun, walau sering disalahsartikan, diejek, dan jadi bahan tertawaan, komunitas saya adalah komunitas yang bisa bangkit, menemukan kasih sayang, dan bisa tertawa kembali. Bayangin nggak kalau kami nggak punya rasa humor? Mungkin yang ada kami malah tersinggung, stres, dan depresi. No I will not be a victim. I refuse to be a victim! We can’t always change the rule, but we always can change the way we play the game.

The world is a a tragedy for those who feel and a humor for those who think. Jadinya orang-orang seperti saya jadi belajar untuk rasional dan punya keahlian untuk tidak mudah terbawa perasaan.  At certain stage, humor will never be politically correct. Dunia akan menjadi tempat yang merepotkan kalau semua orang harus ngerti dan maklum sama perasaan kita. Dalam tataran praktis, kitalah yang bertanggung jawab atas perasaan kita sendiri. Jadi, yang tadinya marah dikatain banci, jadi sekarang bisa ketawa bareng. Apakah itu artinya saya menyetujui bahwa saya banci? No.

Ini sama dengan ketika saya menyikapi konten Charlie Hebdo. Apakah saya risih dengan kontennya? iya. Tapi apakah saya akhirnya bisa ketawa? dalam beberapa joke, bisa. Lalu apakah artinya saya menyetujui kontennya? Enggak. Menurut saya, humor itu nggak hanya menyediakan kesempatan untuk ketawa saja, tetapi juga menyediakan self-coping mechanism. The true purpose of humor: to help people cope with the fears and horrors of the world. Terkadang sesuatu yang mengerikan bisa datang dari aktor politik, tetapi kadang tekanan agama juga bisa menjadi wujud horor dalam kehidupan manusia. Dan humor punya cara sendiri untuk menyikapinya.

Lalu kita bicara bagaimana humor diformulasikan. Caranya banyak. Salah satunya adalah dengan melakukan kesalahan. Kebetulan sekarang saya sedang kuliah di Brunel University London. Alasan kenapa milih universitas ini adalah karena di sinilah satu-satunya institusi di Inggris yang memiliki departemen sendiri untuk riset mengenai humor dan komedi. Dan menurut saya ini penting. Indonesians tend to have a phd degree in taking things personally!

Salah seorang psikolog pernah menyelenggarakan seminar di departemen kami. Dr Merideth Gattis (School of Psychology, Cardiff University), pada sebuah festival Being Funny Being Human menceritakan bagaimana salah satu humor bisa diformulasikan.

Pertama kita bahas dulu konsep humor dari awal mula manusia lahir. Bayi belajar tersenyum semenjak usia dua sampai tiga bulan. Tapi senyuman ini belum bisa dianggap sosial, hanya senyum saja, bukan merupakan bentuk reaksi sosial dari sesuatu yang lucu. Yes, bener, senyuman atau tertawa merupakan respon terhadap sesuatu sebagai aksi partisipatif. To participate. Bayi baru bisa memberikan senyuman atau aksi tertawa ‘yang merupakan respon’ setelah usia tiga bulan. Lalu, apa yg kita lakukan untuk membuat bayi tertawa? Kita melakukan kesalahan. We make, ci luk ba, or a funny face–a face that is not supposedly ‘right formation’ of our face. Atau kita pakai sepatu di tangan dan menunjukkan seberapa susahnya hidup kita karena pakai sepatu di di tangan. Dan bayi ketawa melihat tingkah kita. Sampai sekarang, dewasa, kita ketawa akan hal-hal yang salah tp bisa kejadian di dunia ini. Sampai dewasa, formula ini masih dipakai. Misalnya, kita ketawa kalau ada dosen yang ngajar trus jatuh. Karena dosen itu harusnya nggak jatuh di depan kelas. Itu salah. Salah tapi lucu. Nah, Charlie Hebdo juga punya konsep melakukan kesalahannya sendiri–yang merupakan bagian dari menjadi lucu. Dia tau itu salah, tetapi menjadi salah adalah bagian dari menjadi komik.

So what we can learn about humour? Saya mau permisi nulis pake kapital boleh ya? THE MOST IMPORTANT ASPECT OF COMEDY IS INTENTIONALLY MAKING A MISTAKE OR BEING WRONG! Charlie Hebdo mungkin tau kalau bercandain agama itu nggak bener. Tapi itu adalah bagian dari menjadi komik. Sekian.

Jangan lupa cuci tangan sebelum makan. Peluk cium.

Gay & Lesbian Indonesians view on life, love, fashion, health, and politics

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,768 other followers

%d bloggers like this: